Kompetisi Para Ibu

Dulu saya kira dunia seorang ibu itu seindah yang ada di iklan shampoo bayi, mudah dan menyenangkan, semua saling membantu.

(efek kaset rusak)

Iya sih semuanya menyenangkan, sampai saya tiba pada fase dimana banyak suara suara sumbang yang sering bikin para ibu galau.

Tiap hari adaaa saja nemu (entah di media sosial, lingkungan terdekat sampai celetukan orang di sekitar kita) perbandingan yang seringnya bernada negatif dan menyalahkan satu sama lain. Misalkan:

 

**

 

Melahirkan Normal dan caesar.

Sejak kapan Ibu yang melahirkan normal itu dianggap lebih hebat dari Ibu yang melahirkan secara caesar??

Saya adalah ibu yang melahirkan secara normal, dan saya sama sekali gak merasa lebih hebat dari kakak saya yang 2 kali melahirkan secara caesar.
Membayangkan perut saya dibelah lapisan demi lapisan saja saya sudah lemes. (BRB, jatuh di pelukan Koh Joe)

 

Selain karena gak sanggup bayangin ngerinya saya juga gak sanggup bayangin tagihannya (sewem) :))

 

**

Wanita yang mempunyai anak dan wanita yang belum (atau memutuskan untuk tidak) mempunyai anak.

Kenapa ada anggapan wanita yang sudah melahirkan itu sudah ‘lengkap’ sebagai wanita sejati?
Lah terus selama ini kalau tidak (atau belum) melahirkan bukan wanita dong? Pfftthh~

Siapa yang menanamkan ide itu sih?
Kalau ada orang yang memutuskan untuk mengadopsi anak, terus dibilang belum jadi wanita seutuhnya? HEI..

Wanita yang melahirkan atau tidak ya tetap wanita (hebat).
Kalau ada wanita yang memutuskan tidak mau punya anak, kenapa orang lain harus berisik? Masih tabu ya keputusan seperti itu?

It’s soooo yesteryears, hellaw :’))

 

**

Status Ibu Rumah Tangga dan Ibu Bekerja.
Permasalahan yang tidak ada habisnya.
Dear girls (ya, karena hanya ABG cewek yang ribet sama urusan cewek lain), sudahlah. Kalian semua hebat.
Jangan ceriwis satu sama lain.

Kenapa sih perlu banget dibilang lebih hebat dari yang lain?

Life is not a competition. D’oh.

 

Dear Ibu Bekerja, waktu saya jadi Ibu Rumah Tangga BEUH! repotnya ngelebihin repotnya saya waktu kerja jadi auditor.
Jadi kalau dibilang Ibu Rumah Tangga itu santai, HAHA – salah.
Saking ribetnya, mandi tanpa terburu buru pun adalah salah satu kenikmatan duniawi. Seriously.

Dear Ibu Rumah Tangga, para Ibu Bekerja punya alasan mereka sendiri kenapa mereka memutuskan tetap bekerja.
Ya ya, silakan bilang “Tuhan pasti cukupkan tanpa harus meninggalkan anak”, sayangnya waktu saya jadi Ibu Rumah Tangga saya pernah mencoba segala macam bisnis dan satu satunya cara saya bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga adalah dengan bekerja dan mendapatkan penghasilan tetap.
Sudahlah, para Ibu Bekerja ini galau minta ampun harus meninggalkan anak di rumah / daycare jadi rasanya gak perlu deh dibebani suara sumbang seperti itu.

Be nice.

 

**

 

Pola asuh 101.

Ibu yang membiarkan anaknya pakai pospak itu pemalas dibanding ibu yang sejak dini membiasakan anaknya memakai popok kain.
It’s their choice. It’s their money. Deal with it.
Kalau alasannya demi mendukung program Go Green saya rasa akan lebih masuk akal dibanding memberikan label Ibu Pemalas.

Ibu yang membiarkan anaknya diasuh babysitter itu ratu tega dibanding anak yang diasuh Ibu sendiri.
ehehe.. tolong jangan dimulai dengan memberikan ilustrasi ‘berlian di rumah tidak akan dipercayakan kepada orang lain – tapi anak sendiri dipercayakan diasuh orang lain’ yaaa 🙂
Percaya deh, setiap Ibu lebih rela kehilangan berlian daripada anak sendiri (apalagi kalau si Ibu tidak punya berlian sama sekali  – kode Nuwis – dicopy gitu ganti), tapi sekali lagi – tiap orang punya alasannya sendiri.

Saya gak masalah sama sekali dibantu menjaga anak oleh orang yang hanya lulusan SD, yang penting dia sopan, tau tata krama dan tidak kasar.

Ibu yang memakai safety harness untuk anaknya tuh menyedihkan.
Gini contoh kasusnya, teman saya ada yang anaknya berkebutuhan khusus.
Dia punya bayi yang masih berusia di bawah 6 bulan, dan ada saat saat dimana ia harus keluar hanya bersama kedua anaknya.
Menggendong bayi dan menggandeng anak berkebutuhan khusus yang sangat aktif di tempat ramai bukan perkara mudah kecuali anda punya 6 tangan, dan dia bersyukur ada safety harness.

See, mungkin orang orang yang mencibir hanya sempat melihat sebentar tanpa tahu keadaannya 🙂

Ibu yang membiarkan anaknya sampai balita masih duduk di stroller itu Ibu yang gak mau repot.
nganu Pak, Bu sekalian.. saya termasuk orang yang masih membiarkan Anak Kutu duduk di stroller. judge me please :))

Kenapa? karena kadang kami harus pergi dalam waktu lama dimana saya lebih nyaman melihat Anak Kutu duduk dan tidur di stroller jika sudah capek.
Kalau gak capek ya tetap jalan lah 🙂

Dan jika situasinya tidak memungkinkan saya tidak akan memaksakan membawa stroller melainkan bawa jarik untuk gendong Anak Kutu jika ketiduran.

Kuncinya, tahu diri.

 

**

 

Daaaan masih banyak lagi suara suara negatif mengenai parenting yang saya sering dengar, kalau kebanyakan takut saya malah jadi sumpek sendiri :))

Gaaak, saya nulis ini bukan karena saya adalah orang suci yang gak pernah ngomongin orang lain. (jadi pernah sis? – ya cencunyaaa – kok bangga?? – anu.. lihat! gajah terbang)

Saya cuma capek sama para Ibu yang sibuk ‘berkompetisi’ dengan Ibu lainnya.

Setiap orang punya cara yang berbeda, punya alasan yang berbeda, dan hanya karena tidak sejalan jangan kemudian jadi dicemooh.

Kalau tidak suka dengan cara asuh dan pola pikir orang lain ya jangan ngedumel dan ngerasa paling hebat.
Bukannya lalu juga jadi generasi yang cuek bebek sih, tapi cukup tau porsi dan tau diri saja.

Beda anak – beda cara asuh, beda keluarga – beda keputusan.

Ada hal yang perlu dikoreksi (dengan sopan) dan ada hal yang memang bukan urusan kita untuk mengoreksi.
Sekalipun kita gemes liatnya :p

Pada akhirnya sih saya sepakat sama artikel ini  Let’s end mommy wars – shall we?

 

Kalian semua hebat. Oke? Oke? (hugs)

Advertisements

41 thoughts on “Kompetisi Para Ibu

      1. hey aku juga blm jadi emak-emak tp suka gerah ngeliat mommywars ini. pada brisik yee (yawes itung2 latian, hahaha)…. minta diajak rujakan bareng cabenya sekarung…..

  1. Sepakat banget sama tulisanmu Tasha! Point pertama, aku adalah perempuan yang sejak kuliah sampai detik ini bercita2 ingin melahirkan secara caesar. Tapi karena di Belanda nyaris tidak mungkin caesar kalau tidak sakit parah, maka perlahan mengubur cita2 itu, kecuali kalau aku melahirkan di Indonesia. Hal yg masih jadi angan2 inipun sudah dicibir sana sini. Kenapa musti caesar kalau bisa normal? Ya suka2 aku dong ya haha. Point kedua, awal menikah sudah ada pembicaraan dengan suami, kalaupun semisal anak tak kunjung datang, kami sepakat akan mengadopsi. Inipun menuai suara sumbang. Yah, hidup memang warna warni. Tapi menjudge orang lain hanya karena berbeda dengan apa yang kita lakukan, rasanya tak akan menjadikan kita lebih baik dari lainnya.

    1. Hihihi, aku baca kata kata caesar aja udah merinding. Good luck yaaa 👍 (keringet dingin bayanginnya)
      Sebenarnya orang yang suka menjudge orang lain itu emang ada dimana mana nah yang agak menantang gimana kita bisa kalem ngadepinnya :p untuk hal itu aku masih harus banyak belajar, kadang suka kepancing emosi hehehehe :))

    2. Den, di Jerman juga kebanyakan gitu, caesar kalau memang krn HARUS caesar. Tapi ada juga kok rs yg mau caesar tanpa harus sakit dulu. Kamu survey2 aja lagi, siapa tahu di sana juga nemu.

      1. Ga ada Beth. Kehamilan di Belanda yang mengurus adalah bidan. Jadi sejak awal kehamilan sampai melahirkan, bidan yang bersangkutan yang mengurus. Ga ada campur tangan dokter. Nah, pilihan melahirkan ada dua, mau dilakukan dirumah atau rumah sakit. Kalau dirumah sakit, tentu saja atas rekomendasi si Bidan ini. Dan di Belanda, tidak diperbolehkan melakukan caesar kalau kondisi si Ibu masih dalam tahap “oke2 saja”. Melahirkan dengan caesar diperbolehkan kalau kondisi calon ibu benar2 parah untuk menyelamatkan nyawa ibu dan si bayi, contohnya : Ibu dalam keadaan koma misalkan karena suatu hal atau setelah 3 hari kontraksi bayi ga keluar2. Aku taunya ini juga setelah konsultasi dengan dokter keluarga dan bidan dan tanya2 dari pengalaman orang2 kanan kiri. Aku sih pengen pakai alasan skoliosisku yang parah ini (lha kok aku ngatur2 bidan yo haha. Eh, koyok aku akan melahirkan besok aja pembicaraan ini)

  2. Sepakat banget Tash! Gw belum punya anak dan terpikir untuk tidak punya anak. Tapi apa kemudian gw orang yang egois dan gak suka anak kecil (they judge me that), SALAH BESAR! Gw punya alasan yang kalau gw punya anak, justru gw egois karena gw merasa belum siap. Nanti anak gw piye? Lagi, rempong amat sik sama pilihan gw, kek kalo gw mau punya anak mereka bakal kasih uang susu aja (nah itu lagi, sufor dan ASI – ah sudahlah!). Belum lagi tekanan punya ibu itu lebih tinggi (dari lingkungan ibu2 juga). Daripada tekanan yang tinggi kan mendingan heels sepatu bukan? The higher the heels the closer to heaven gitu.

    *kok gw jadi nyerocos* :’))))

    1. Gw bahkan sekarang belum pengen nambah anak karena ngerasa belom bener ngedidik Kara, masih suka sumbu pendek.. Apa kabar nanti kalo ada anak bayi lagi. Daaaaan pastinya kena penghakiman pula karena statement ini.
      Maaaaaan, get over it already..
      Gw anak flat shoes sih Mbaksis, soalnya emang kepribadian gw down to earth gitu lahhh, ya gimana lagi kalo heaven doang mah ada di bawah telapak kaki gw #ahzeg #diludahin

  3. Pelaku mommy wars itu yah menurutku sih justru mereka yg gak PD sama hidup mereka sendiri. Makanya butuh menjatuhkan orang lain spy merasa lebih terangkat rasa percaya dirinya. Semacam haus pujian tp ini levelnya lbh parah krn nggak puas cm dgn dapet pujian tp hrs nyela mereka yg gak sejalan. Klo yg PD dan ikhlas menjalani hidupnya sendiri, ya bakalan kalem2 aja sih.

    1. Hmm enel uga mbaksis Tyke. Kalo PD yaudah masing masing aja ya.. Tapi kadang yang kalem kalem aja ini lama lama sumpek sendiri kayak pengen ngomong “yugaesss, sutralah haiii. Mending playdate bareng yuk ah” hihi moga moga gak ketularan aura negativenya ya 😆

  4. Setujuuuu!!!! Paling males kalo liat temen post di fb soal ibu ini vs ibu itu. Ajaran anu vs ajaran itu. Trus bacain komen2nya bikin naik darah sendiri. Hadeuuhh.. urusin diri sendiri aja udah ribet kayanya ya.. manalah anak kita juga ajaibnya minta ampun 😅😅😅

    1. Kadang kalo lagi PMS baca begituan suka mikir “waduh, apa gw salah ngajarin ya” hahaha pressure Nad..
      Akhirnya yasudahlah, menerima diri sendiri apa adanya tiap orang ajarannya beda. Beda anak beda cara yekan, gak usah terlalu strict.. chill 😜 *uwel Sophie*

  5. aaaah aku pernah berada di masa2 kelam iniiii… masuk ke milis dan forum para supermom. yg ada capek. banyak humblebrag-nya..
    udahnga ngadepin dunia nyata dan sgala penghakimannya aja capek.. ini lagi di dunia maya juga.. yuuk ah..

  6. Aaaggrrhh.. kzl klo ktmu ibu2 yg suka main versus2an.. ada jg yg suka membaga2kan diri sendiri larena menurutnya caranya dialah yg paling benar.. ada jg yg suka pamer asi (mungkin sekali2 gpp ya buat motivasi) tp tmn saya yg ga keluar asinya dia jadi makin sedih krn liat tmnya terlalu pamer asi.. *sabar2

    1. Huhu sering banget aku ngadepin orang kayak gitu, ada yang dikit dikit nyuruh aku berhenti kerja karena anak aku belom sukses copot pospak karena aku kerja sedangkan anaknya sukses sejak umur setaun karena dia di rumah hahahaha yang ada malah gak hepi di kantor karena kepikiran hihi, kzl. Semoga kita makin pinter untuk gak terpengaruh para Ibu yang suka main versus2an yaa :’)

  7. Aah masalah ini mah ohne Ende alias nggak ada endingnya. Anaknya bu A pake baju anu dimasalahin. Anaknya bu B udah masuk playgroup dari bayik dimasalahin. Anaknya bu C makan permen dimasalahin. Aku kadang mikir, kapan ya ini berakhirnya? Apa iya nanti pas anakku udah remaja, ibu tetangga bakalan mempermasalahkan pacarnya anakku juga? 😳

    1. hehehe aku sempet mikir ohne ende ini bahasa apa :’)) sampe akhirnya barusan googling.
      jangankan pacarnya anak, mbak ART aja pasti akan dipermasalahkan – yang ribut lah, yang dandan lah, yang amin hp mulu lah – capeeek :p

  8. betul sekali mbak,

    emang kebetulan sejak punya anak istriku resign dari kerja, dan kita udah komitmen mau buka usaha. tapi ya gitu, ada aja yang ngomongin apa lah, itu lah… hahahaha

    yah namanya manusia, yang penting gag ikut makan ma dia ya kata “bodo amat” jadi muncul.

  9. Setujuhhh bgttttt! Aku suka kasian sama temen2 yg udh jadi ibu2 dan kayaknya penuh drama mommywars inii.. Kenapa ngga bisa pada chill sih hehehehe mau aku kasih liat deh blogmu ini ke mereka yg pada heboh 😉

  10. Well said, Tasha👍🏼 Setuju banget! Eh Btw salam kenal ya😊 Saya Emmy si mrstravelista.. Kayaknya ini komentar perdana saya di blog kamu.
    Kebetulan saya baru melahirkan anak pertama 2 bulan lalu via c-section di usia 40 tahun, kehamilan hasil program IVF.. Dan tau gak, yg ngomong negatif itu ada aja..😁 Yang ngomong udah ketuaan jadi ibu lah, kebanyakan traveling jadi susah punya anak lah, manja gak mau sakit saat melahirkan normal lah.. Dan puncaknya waktu ASI-ku gak sukses dan pindah ke sufor..😱😁 Duuuuhhhh..tiba-tiba semua mummy gila itu nganggep aku ibu terkejam sedunia.. ASI memang yg terbaik tapi sufor kan bukan racun juga..😏
    Halahhhh maap jadi curcol..

    1. Hi Mba’ Emmy 😀
      hahaha pusing ya dengernya, daripada kasih komen negatif mbok ya playdate dengan tenang dan seru gitu ya.
      iya, belum lagi masalah ASI tuh issue sensitif banget akhir akhir ini.

      btw, selamat ya untuk kelahiran anaknya ❤ ❤
      You go yummy mummy! 😀

      1. Hehehe😊 makasih, Tasha.. Menurutku ASI itu banyak yg dikampanyekan dengan gaya fanatik sehingga kalo ada ibu yg gak bisa atau gak mau kasih ASI karena alasan apapun langsung “ditindas” habis-habisan..😁

  11. Bacanya aja sudah lemes dan kasihan duluan Tasha. Nga ibu-ibu, lajang, single parent dan lain-lain pasti ada aja cibiran dan komentar yang aneh-aneh. Mesti punya telinga badak kali yach? Karena yang paling tau baik dan buruk semuanya kan kita nya sendiri yach? Hehehe

    1. Telinga badak dan hati badak juga deh. kasian tuh yang kemudian jadi kepikiran ‘del 😦 ibaratnya udah berjuang susah payah, dibantuin juga enggak, tapi malah didengerin komen negatif hihi, gemets.

  12. Jadi inget bbrp tahun yang lalu pernah terpancing twitwar karena dibilang ‘Part Time Mom’ just becoz I’m a working mom. Sakiit hati rasanya. Tapi yah sudahlah. Kalo sekarang sik sudah terserah orang mo bilang apa yang penting aku bahagia ngahahaha 😀

    1. whoa, itu ngeselin sih emang. apaan coba ‘part time mom’ gak asik banget labelnya.
      Tapi semoga dengan sering denger hal hal negatif bikin kita makin dewasa dan gak terpancing lagi ya :p aku pun kalo kepancing curhatnya sama suami, tapi lama lama mikir “wah itu yang usil sama urusan orang dan suka komen negatif kapan dewasanya ya?” hihi

  13. ak belum jadi emak2, dan suka males sm mommy wars ini. aaah pelaku mommy wars cuma insecure aja kali sm idup mereka sendiri mbaak..
    apapun yang membuat kita berkomentar negatif sama orang lain bukannya memang karena sifat ga pede dan ga menikmati hidupnya sendiri gitu ga sih?

  14. Namanya wanita pasti ada kekurangan dan kelebiham.yang penting bagaimana memandang dari sisi positif.mungkin mereka yang suka judge agamanya masih lemah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s