How We Met – Opa Oma

Tahun ini genap 17 tahun Oma saya meninggal.
Masih teringat jelas waktu itu saya masih SMP, oma sedang dirawat di rumah sakit Bintaro.
Sebenarnya waktu itu saya seharusnya sekolah siang, tapi entah kenapa saya pengen bolos dan pergi ke RS. (halah sis, wong seminggu selalu bolos dua hari, pake sok ‘entah kenapa’ -_- )
Tapi benar saja, sorenya Oma saya meninggal.

Sekarang sih saya gak pengen ngomongin yang sedih sedih, tapi mau cerita tentang kisahnya Oma dan Opa.
Walaupun saya gak sempat ketemu Opa, tapi dari cerita mama dan para tante saya yakin Opa pasti ganteng banget.

———————————————————————————————–

Jadi, jaman dahulu kala Oma Opa saya yang keturunan Manado ketemu di desa Oma.

Gossip yang beredar di kalangan keluarga katanya Oma bukan tergolong cewek cantik di desanya (walaupun di mata kami, Oma paling ketje sedunia) – lalu datanglah Opa yang tinggi, gagah dan ganteng berkunjung ke desa Oma.

Jatuh cinta deh si Opa. Langsung dilamar tuh Oma.

DANG!! Buru buru banget bro?
Gak takut dikira freak apa? (eaaa)

Tapi dasar emang si Oma kecil kecil galak tukang jual mahal dan gengsinya selangit (yang kemudian nurun ke cucunya), ditolak dong Opa.
Oma pernah bilang waktu itu dia pikir “ganteng memang, tapi enak aja mau langsung nikah” – okedeh kakak.

Kebayang sih cewek cewek yang naksir sama Opa sudah siap pundak banget kalau kalau Opa patah hati kemudian pengen nyender.

Mz, nyender mz. Pundak ade siap.

Tapi Opa pantang nyerah.
Tiap hari Opa datang ke desa Oma.
Mungkin ya, mungkin.
Sebagai orang yang MUNGKIN gak pernah ditolak, shock dong.
Gak terima. Dianggap makin menantang. (teori suka suka)

Akhirnya Opa usaha terus.
Terus Oma kepikiran untuk iseng aja kasih Opa syarat yang susah, biar tau niat Opa bener bener serius atau gak.
Oma bilang ke Opa bahwa lamarannya akan diterima kalau Opa bawa sapi beberapa ekor dan deretan syarat lain yang kelihatannya sulit untuk dikabulkan.

E do do eee~
Katanya waktu itu susah untuk punya sapi, cuma orang kaya dan terpandang yang bisa menyanggupi syarat tersebut.
Ini emang iseng apa matre, nona? *dikeplak*

Menurut cerita Oma, Opa sempet terdiam beberapa lama, sampai akhirnya Opa pamit pulang ke desanya dan meminta Oma untuk menunggu.
Oma sih asik asik aja, kalau perlu dianterin sampe ujung desa sambil lambai lambai sapu tangan “yukdadahbabai” – sok gak butuh banget sih nih nona muda.

Sehari, dua hari Opa gak ada kabar. Oma pikir pasti Opa gak akan balik lagi.


EHHHH!

Tiba tiba gak berapa lama sejak pamit, Opa balik dong ke rumah Oma bareng orang tuanya sambil bawa beberapa ekor sapi dan syarat lain yang Oma minta.
Ternyata Opa anak orang kaya waktu itu.
Jiaaaah huahahaha Zoonk banget si Oma – kaget :’))

————————————

Long story short,

Mereka akhirnya menikah, mempunyai 10 anak (bayanginnya aja udah capek), dan tinggal di Malang.

IMG_5181
Itu Oma berdiri di atas kursi saking kecilnya :’))

Yang saya suka kalau sedang melihat album foto lama adalah Opa dan Oma yang selalu terlihat mesra.
Foto mereka selalu berkisar sedang bersanding bersama sambil tertawa bahagia, atau sedang berpelukan atau berdansa tentunya.

Walaupun Oma terkenal galak, tapi Opa selalu punya cara konyol untuk berbaikan.
Oma yang suka ngambek dan pendek itu selalu terlihat bahagia di samping Opa yang tinggi besar dan selalu menjaga Oma.
Waktu mereka meninggal, rumah di Malang penuuuuuh sama keluarga dan sahabat.
Dari cerita para tante dan mama saya tahu bahwa Opa dan Oma jarang banget terpisah, kemana Opa pergi Oma pasti diboyong.

They taught us how to love each other.

The greatest legacy one can pass on to one’s children and grandchildren is not money or other material things accumulated in one’s life, but rather a legacy of character and faith. (and Love) – Billy Graham

Ini salah satu foto Opa dan Oma kesukaan saya – waktu mereka sedang berdansa depan para keluarga di acara natalan entah tahun berapa. My treasure.

IMG_5180
“Happiness is finding the perfect dance partner – unknown”

Semoga kita semua bisa menemukan ‘the perfect dance partner” ❤

Advertisements