Catatan tentang Melahirkan

Minggu – 14 Oktober 2012

Minggu pagi itu saya dan Nuwis berangkat menuju the one and only, BEKASI.
Yasss! Ini waktunya foto hamil.
Sejak trimester pertama saya sudah berisik banget mau foto hamil.
Sempat sulit mencari waktu kosong, tapi akhirnya kami paksakan.
Lagipula waktu itu saya sudah lewat seminggu dari due date.
Someone is getting too comfy, eh?
Yaudah sekalian aja foto deh sekalian buang buang waktu. LAH?
Sepanjang sesi pemotretan sebenernya saya ngerasa sedikit ngilu pada perut bagian bawah, tapi saya abaikan.
Karena hari ini, fokus kami hanya pada mas fotografer yang kayaknya makin lama makin kehilangan akal menghasilkan foto ciamik dua mahluk rempong ini. *sad* emang gak bakat, ya gini deh. seadanya aja lah mas fotografer, yang penting ada foto -___-“

69102_10151297603193894_1656304961_n
aku yang sebelah kanan ya, kalo yang kiri emang perutnya nyolot sejak dahulu kala.

Setelah saya, Nuwis dan mas fotografer merasa sudah tidak ada yang bisa diusahakan kami pun menyudahi sesi foto hari itu.
Ikhlasin aja yuk gaes?

Dalam perjalanan pulang ke Bintaro kami mampir di Total Buah Simatupang, di situ saya …. ngompol. YOI, NGOMPOL.
Biasaaa namanya juga ibu hamil, apalagi trimester akhir – kelar deh.
Ngakak dikit, ngompol.
Nahan perasaan dikit, kebelet pipis.
Kaget, AMBYARR.

 

T : aduh duh, aku kayaknya ngompol deh HAHAHHAHA
N : walah! Terus gimana? Bawa ganti? Nih nih tissue dulu, ayo ke toilet.
T : haduuuh chaos banget. *lap celana yang kukira kuompolin* eh wait.. kok beda ya *ambil tissue* WAAAAA! Flek!
N : *panik dan langsung telfon papanya *seorang dokter kandungan*

(Panik. Karena waktu trimester awal kehamilan saya beberapa kali flek dan kena surat perintah bed rest dari dokter)

Tapi ternyata menurut papanya itu normal, itu tanda awal siap melahirkan. Oh wow.
Pantesan seharian perutku mules.
Habis itu ya lanjut belanja buah. TETEUUUUP.

Sore hari masih bisa pecicilan sambil sesekali ngeluh mules, malamnya baru mulai tertib dan berbaring ngerasain mules yang datengnya mulai keroyokan.

Tas Ibu? check
Tas Kara? check
Hitung rentang waktu kontraksi? check
Kabarin keluarga? check
Gak bisa tidur? check
Nampol Nuwis karena kesakitan? Hampir
Nuwis usuk usuk punggung? check
Nuwis ketiduran? CHECK BENEUR. *timpuk*

Tengah malam kontraksinya mulai bikin senewen (MAKLUM, IBU BARU – dikit dikit panik) jadilah kami pergi ke Klinik Archa Medika di BSD, Tangerang Selatan.

archa medika


Di sana saya langsung diperiksa oleh salah satu bidan jaga, dan ternyata
“Bu, baru bukaan 1 yaaa” 

Loh, tunggu tunggu.. GAK MUNGKIN 😥

Walaupun akhirnya kami ‘ditolak’ dan disarankan untuk kembali periksa besok.
Dengan diberi kata mutiara dari bidan senior “kalo anak pertama emang lama kok bu, ada yang sampe beberapa hari kok” – not helping loh sus, NOT HELPING AT ALL. *keringet dingin*

Pedih rasanya ditolak, tapi ya sudah mungkin belum jodoh. (gimana?)
Melanjutkan kegiatan menghitung jeda antara kontraksi di rumah.
Sampai akhirnya saya ngerasa sangat insecure dan memutuskan demi apapun juga saya gak mau melanjutkan proses kontraksi di rumah.
Akhirnya waktu subuh kami berangkat ke klinik lagi, karena saya ngerasa mulesnya udah gak main main.

Mungkin Bidan dan Susternya sudah malas berdebat dengan ibu ibu rempong super panik yang lagi mules, jadi gak ‘diusir’ lagi deh :p


***

Senin, 15 Oktober 2015

Karena masih penuh, jadi kami dapat kamar kelas 1.
Sambil menunggu kamar pilihan kami kosong, jadilah kami menghabiskan waktu dengan kegiatan berguna macam selfie, ngabarin keluarga, dan menyiksa Nuwis sembari saya kontraksi.

Pagi sampai siang kami stay di kamar sambil sok saling menguatkan.
Tiap jam level mulesnya nambah, dan tiap diperiksa suster selalu menyebutkan angka 1.

Dalam hati saya pengen pindah rumah sakit yang susternya jawab “Oke, sudah bukaan 9” – yakaliii ahhh
Dulu di twitter pernah ada yang live tweet waktu dia mau melahirkan, sampai bukaan 6 dia bilang masih gak berasa sakit yang berarti.
Lah ini baru bukaan 1 sudah gak karuan begini.

Saya pernah duduk di kursi dokter gigi sambil mangap 5 jam penuh.
Gigi saya dipotong potong karena akarnya membesar jadi gak bisa dicabut langsung.
Obat bius sudah terlalu banyak disuntikan, jadi tinggal sisa sisanya aja. Saya mampu.
tapi rasa sakit melahirkan ini, nyerah deh.

225407_10151549380193894_990866079_n
Makan dulu biar sakitnya hilang. you wish
577265_10151549380258894_1002484557_n
Sok asik tapi tampang udah babak belur nahan sakit
578259_10151549380268894_773723037_n
sudah mulai nyerah dan gak bisa bercanda

Kemudian siang sekitar jam 1 karena kondisi mulai gak bisa diajak foto dan bercanda saya dibawa ke ruang observasi.
Di sana ya disuruh nunggu aja dulu sambil ngerasain mules dan ngilu.
Selera humor dan nafsu selfie sudah hilang entah kemana.

Tiap bulan kalau sedang menstruasi, selalu ada 1 hari dimana saya ngerasa sakitnya sangat parah sampai bergerak sedikit saja rasanya gak sanggup.
Rasa sakit kontraksi? JAUHHHHHH di atas itu rasanya.
Rasanya kacau banget.
Mau nangis, mau marah, keringet dingin, semua campur aduk tapi gak ada daya untuk ngapa-ngapain, cuma bisa dirasain.

Dan karena dari jauh hari kami memutuskan untuk memakai epidural, kami harus menunggu (AGAIN) sampai bukaan 5 baru bisa menerima suntikan epidural.
Menurut Nuwis sejak bukaan 3 saya mulai anarkis dan berisik.
Saya sih gak sadar ya karena sibuk nahan sakit.

Sampai akhirnya saya (katanya lagi) menangis nangis sambil seluruh badan saya bergetar hebat menahan sakit, teriak teriak sambil memohon (entahlah betapa gak bangetnya moment itu) untuk disuntik dan untungnya sudah masuk bukaan 5 jadi boleh disuntik.

Sehabis disuntik saya merasa jauuuh lebih tenang, sakitnya memang sudah tidak berasa tapi saya masih bisa merasakan kapan perut saya sedang kontraksi.
Karena yang saya baca, salah satu efek epidural adalah tidak bisa merasakan kontraksi dan tidak tahu kapan harus mengejan.
Thank God semua kekhawatiran pemakaian epidural tidak terjadi pada saya.
Efek (katanya) akan ‘high’ setelah melahirkan? Gak ada tuh. Normal saja.
(atau mungkin saya kurang peka? XD serah daaaah)

***

17.00 WIB  
Setelah lama ditunggu, akhirnya sebelum adzan maghrib, Dokter (tampan) itu pun tiba, sambil bersenandung beliau bersiap siap.

Pakai sarung tangan, periksa bukaan, memberi arahan pada para suster.
katanya jangan mengejan dulu sebelum dia mengaba-abakan.

“YAELAH DOK, BISA LANGSUNG AJA GAK??”

Pada saatnya disuruh mengejan, saya langsung mengejan sekuat tenaga sambil flashback ke kelas senam hamil, kepala didorong ke arah dada (kayak pengkuan tetangga saya mantan anak tarki yang kalo lagi dilabrak “DAGU NEMPEL DADA DEK!”) dorong bagian perut kayak mau poop, pegang belakang lutut, didukung dengan pikiran “jangan sampe Kara nyangkuuuuuuuttt”.

Cukup 3 kali mengejan, saya bisa merasakan perut saya tiba tiba ploooong, kosong.
Tidak lama kedengeran suara tangisan Kara. Kami berhasil :’)

Kemudian suami saya mencoba mengambil foto Kara, tapi EALAH pak dokter (tampan) malah suruh Nuwis motong tali pusat, kamera diambil pak dokter (tampan) kemudian diserahkan kepada saya yang masih dalam posisi mengangkang.

580622_10151549380598894_671781710_n

Agak awkward gimana gitu disuruh ambil foto bagus dalam posisi mengangkang, dimana Kara masih ‘terhubung’ ke saya. Tapi, ya sudahlah yaaa :p

Mungkin ini satu satunya perasaan yang gak pernah saya rasain sebelumnya selama 27 tahun hidup saya.
Mungkin saking tak tergambarkan perasaan itu, hingga waktu dijahit saya anteng aja, HAHAHAHAH.. haaaa. sampe sekarang masih inget banget suara jahitannya :'(((( *ngilu*

Saya bersyukur persalinan berjalan lancar, kami semua sehat.
Sungguh, baru kali itu saya merasa doa “semoga persalinan lancar ya” sangat besar artinya.
Tingkat kemampuan seseorang menahan rasa sakit berbeda.
Entah itu persalinan normal atau caesar, semuanya mempertaruhkan nyawa sang Ibu.
Tidak ada yang lebih hebat, semua Ibu hebat.

So, Please stop ngotot bahwa ibu dengan persalinan normal lebih hebat, atau ibu yang melahirkan anak lebih hebat dari ibu yang mengadopsi anak, atau Ibu rumah tangga lebih hebat dari ibu bekerja.
Oh Pleaseeee, terima saja kenyataan bahwa kita semua ini hebat.

life_is_not_a_competition-933089
Kakak saya mengalami 2 kali persalinan caesar, saya yang mendengar proses operasi caesar gak berhenti bergidik. Membayangkan perut saya harus disayat lapisan demi lapisan, ya Tuhaaaaaan gak sanggup 😥

Tapi demi anak, semua ketidaksanggupan dijalani para Ibu dengan berani.
Kalian yang sudah pernah merasakan melahirkan, memutuskan untuk tidak merasakan ataupun belum merasakan. Kalian tetap hebat.

734376_10151549382618894_1143457680_n

Selamat datang Anak Kelinci.
Nama kamu artinya adalah Titik Pertemuan Bapak dan Ibu yang pemberani 🙂
Semoga suatu saat kamu bisa jadi Ibu yang lebih baik dari Ibumu ini ya.

Jujur, hamil itu berat.
Jujur, melahirkan itu sakit.
Jujur, setelah melahirkan juga masih sakit.

Tapi Jujur deh, saya rindu rasanya hamil, melahirkan (walaupun masih agak takut) dan menggendong bayi kecil – saya tidak keberatan melakukannya lagi.
(pesan untuk Nuwis : ya kira kira 5 tahun lagi lah yaaaaa :p)

Advertisements

3 thoughts on “Catatan tentang Melahirkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s